Rabu, 28 September 2011

Sudut Kampus - Psikologi Industri


Gimana mulai ngerjain tugas ini yah??

Salam aja dulu deh, tugas ini saya persembahkan khusus untuk Pak Seta, Dosen mata kuliah Psikologi Industri (Pake Pak yah? Soalnya gak seumuran hehhe :) ). Punteun Pa, sebelum baca summary saya mudah-mudahan ada kaitannya yah dengan materi kemarin hehhe, landasan saya cuma mau sharing saja pak tentang struktur management di tempat saya bekerja waktu itu.

Setelah salam saya juga jadi bingung mau ngomong apa?

To the point deh Pak, membahas dan melanjutkan materi kuliah pertemuan terakhir saya akan memberikan kesimpulan tentang struktur  organisasi dan permasalahan yang berhubungan dengan materi  kuliah dipertemuan kemarin di  tempat saya bekerja dulu :) 

Perusahaan terakhir saya bekerja terletak di Kota Bogor, perusahaan yang mempunyai  basic dengan kategori cukup baik, membuka peluang emas untuk meniti karier (terlebih untuk pemula seperti saya hihi). Sebut saja namanya PT Mawar. Saya bekerja sebagai Admin Support, saya pertama kali bekerja di tempat ini sekitar tujuh bulan yang lalu. Hari pertama masuk kerja saya dikenalkan dengan seluruh karyawan beserta job desc mereka masing-masing. Satu persatu karyawan di perusahaaan tersebut saya kenali. Selanjutnya, hari-hari di kantorpun saya jalani dengan proses pembelajaran
.
Empat bulan setelah saya bekerja, satu persatu masalah di perusahaan tersebut bermunculan, mulai dari masalah penghargaan terhadap karyawan, rasa ingin dihargai, pilih kasih antara divisi perusahaan, absensi karyawan, gaya bicara atasan dan bawahan,  asset perusahaan, who I am and who U are? (Kebanyakan kalo saya sebutin semua :p ). Saya dan rekan-rekan saya yang lain, mulai memendam rasa kecewa, kesal, dongkol, dan berbagai rasa tidak nyaman satu persatu. Tetapi disisi lain, kami sama-sama menanamkan jiwa sabar, jiwa legowo, jiwa nerimo, pokoknya pasrahlah (maklumlah, kita-kita kan bawahan..)

Empat bulan setelah saya bekerja di PT Mawar, syukur Alhamdulillah saya naik jabatan, (sebagai anak umur 19 tahun yang masih polos dan berusaha ga negatif thinking *waktu itu.Red) naik jabatan tentu gaji naik donk. Lagi-lagi saya bersyukur (Cukup deh, buat bayaran kuliah :) ). Di sisi lain, teman-teman saya merasa miris, satu persatu dari mereka bertanya kepada saya "Kamu yakin? Kamu sanggup?" Saya mendelik, rasa penasaran dan ragu berbaur dibenak saya. Oh iya, saya lupa kasih tau, saya naik jabatan sebagai GA-General Affair. Teman-teman saya geleng-geleng kepala, mereka kembali bertanya "Are u sure, sista?" Saya mencoba meyakinkan hati, menegarkan diri, Bismillah sajalah, kalau saya gak mencoba saya gak tau bagaimana rintangannya.

Hari pertama jadi GA, Bismillah.

Hari kedua, Syukur Alhamdulillah.

Hari ketiga, gimana yah?

Hari keempat, ada masalah apa sih, Bu?

Minggu kesatu, saya masih bisa kok, lah cuma jadi GA, ngurus all about kantor, bantu HR, Legalitas perusahaan, registrasi rekanan.

Minggu kedua, revisi job desc cuy, nambah jadi PA-Personal Assistant Presdir (saat itu saya masih sangat Pe-De, over malah, asik juga umur 19 jadi PA ).

Minggu ketiga, nambah job desc lagi, urusin all about keluarga presdir, eksport, import barang. (Waduh, saya cuma geleng-geleng kepala, lah kan ada divisi yang nanganinnya, kok saya lagi?? mulai acak-acakan nih job desc saya, gaji naik dooooong bu?) Usut punya usut karyawan yang menangani masalah eksport-import ini adalah kakak dari Nyonya Manager Finance di PT Mawar, alhasil ga taat peraturan dan se-enak dewek, datang ke kantor paling siang, pulang kantor paling siang, gaji paling bikin kenyang (Emh, pantes ajah kerjaannya dikasih ke saya, secara dia pikir saya anak bawang, gak akan ngelawan dan manut-manut ajah, anda salah besar kalau gitu!).

Minggu keempat, beliin voucher listrik buat rumah Ibu Manager Finance dan Bapak Presiden Direktur (sempet sebel sama PLN kenapa sih listrik ajah pake voucher? Nambah Job desc kan jadinya!). Belum saya kasih keterangan kalau Ibu Manager dan Bapak Presdir adalah sepasang suami istri, sifatnya 11-12 dempetnya.

Bulan kedua timbul peraturan baru tentang perizinan eksport dan import dari sebuah instansi pemerintahan (Gak boleh disebut yah Pak  J). Sang kakak dari Ibu Manager itu mengkambing hitamkan saya atau menjadikan saya tameng untuk menutupi kesalahannya. Sebut saja bapak itu berrnama Yeti (Itu panggilan sayang saya buat do’I kalau dikantor hehe, abis gendut sih). Dia bilang sama Ibu Manager dan Bapak Presdir kalau saya yang seharusnya memperbarui perizinan itu, dia juga bilang saya sudah diinformasikan sejak 2 minggu yang lalu untuk memperbarui perizinan tersebut, tapi saya tidak melakukannya. Lah? Saya merasa tidak terima informasi apapun, dengan gagah berani saya hadapi orang tua yang menyebalkan yang biasa saya panggil Yeti itu. Saya asli mencak-mencak , saya gak terima dia semudah itu melimpahkan kesalahan kepada saya. Lagipula, itukan job desc dia. Selesai masalah lempar-melempar, tunjuk-menunjuk, ada beberapa permasalahan yang kembali timbul. Saya berpikir, oh kayak gini yah dunia kerja yang katanya kejam, sikut-sikutan. Yang lebih membuat saya bingung kenapa Ibu Manager itu malah membela kakaknya yang jelas-jelas salah? Saya kembali sadar, dia kan adiknya. Mulai nampaklah tidak profesionalnya atasan saya.

Dengan rentetan aktivitas yang melulu itu-itu ajah, agak bosen sih. Pertama kali saya sakit hati banggeeeett. Waktu sang Nyonya Manager yang bilang dia paling cantik satu gedung (itu kata-kata dia omongin sendiri waktu kita ada meeting, over Pe-Denya Nice lah :p) manggil saya ke ruangannya, dengan alasan ga jelas dan ga masuk akal, dia marah karena dia nanyain struk pembayaran indovis**n punya dia (Punya rumahnya booo) yang sudah DIA BAYAR minggu lalu, kata dia saya yang nyimpen, harusnya saya yang bayar dan saya yang kasih ke dia, bukan dia. (Hello, kenapa ga sekalian aja saya yang bayar telepon, PDAM, pembantu, supir, kasih jajan anaknya, hal yang lebih menyebalkan ternyata struknya ada didalam tas dia). Dengan sadisnya dia bilang saya ga da kerjanya, saya ga kerja apa-apa, kerja saya ga bener, indah banget ucapannya itu. Inilah detik detik saya mulai tidak punya rasa respect sama beliau dan perusahaanya, masalah demi masalah yang ga bisa saya ungkapin satu-satu, ketidak sesuaian job desc dan pekerjaan yang saya lakukan. Saya mulai membenci dan merasa gerah dengan nyonya tajir tapi tidak berpendidikan itu, saya mulai merasa benci dengan sifatnya yang suka menghina dan merendahkan lulusan SMK, saya tidak suka dia merasa lebih kompeten (padahal dia lulusan D1), saya tidak suka tidak dihargai, saya lebih suka kita bekerja sama, toh kita sama-sama membutuhkan.

Jika dihubungkan dengan materi yang kemarin dibahas command dan control dalam PT Mawar sangat berperan besan. Setiap karyawannya cenderung didikte. Dalam penilaian saya struktur organisasi MBO hanya dijadikan sebagai kelengkapan perusahaan, leader tiap divisi kurang dihargai dan berpengaruh, kendali perusahaan, pengambil keputusan dari OB (Office Boy) sampai dengan Manager terletak pada Manager Finance padahal dalam susunan struktur dia hanya membawahi Finance dan Accounting.



Selain saya, ada beberapa hal lain yang menimpa teman-teman saya dikantor tersebut yang sesungguhnya semakin mempertontonkan kepribadiaan beliau mengenai pantas atau tidaknya untuk disebut seorang pimpinan. Ini hanya sebuah pelajaran yang saya jadikan pengalaman, bahwa untuk menjadi atasan itu lebih sulit dibandingkan menjadi seorang bawahan, karena perangai serta tutur kata seorang pimpinan akan menjadikan titik temu penilaian seorang bawahan terhadap atasannya.

Cerita semacam ini mungkin juga dialami oleh karyawan-karyawan diperusahaan lainnya. Mungkin yang lain bisa bertahan dalam posisi saya tersebut. Tapi saya tidak. Saya tidak takut rejeki saya akan hilang dengan saya tidak bekerja ditempat itu lagi, rejeki saya sudah Allah atur dimanapun  itu. Saya merasa sangat rendah ketika pekerjaan saya tidak dihargai. Dengan memiliki KTP usia termuda dikantor, saya hanya berusaha menegaskan pada hati saya, saya ini memang bekerja sebagai bawahan, tapi saya tidak ingin menjadi pesuruh yang dianggap sebagai orang bawah, saya ingin menjadi rekan, bukan anak bawang J. Mudah-mudahan saya lekas mendirikan perusahaan sendiri, hehhe  Aamiin :)

Saya memetik suatu pengalaman sebagai karyawan, ketika kita menunaikan kewajiban kita, jangan lupa juga menyeimbangkannya dengan hak yang harus kita dapat. Saya merasa diri saya lebih bernilai ketika hal itu bisa saya sejajarkan.

Sepenggal cerita tentang job desc di tempat saya bekerja (*waktu itu). 

Terima kasih sudah membacanya :)

Sudut Cerita

Keindahan adalah kekuatan, ketulusan hati adalah pemurninya, senyum adalah jalannya, nasehat adalah kekayaannya, persahabatan adalah dunianya, dan cinta adalah alamnya.

Tuhan menghubungkan diri-Nya dengan setiap jiwa, melalui sentuhan yang menggetarkan hati.

Maka jika jiwamu bergetar karena sebuah keindahan, baik itu dari kalimat atau keadaan, sujudkanlah hatimu, karena sesungguhnya engkau sedang berada dalam kehadiran Tuhan yang sedang menyentuh dan menuntun hatimu menuju pengertian yang membebaskanmu dari keraguan dan ketakutanmu.

Engkau terhubung sangat dekat dengan Tuhanmu.

Semua yang kau minta telah didengar dan diangguki-Nya, sekarang tinggal engkau yang memantaskan diri bagi jawaban indah dari-Nya.

Mario Teguh