Gimana mulai ngerjain tugas ini yah??
Salam aja dulu deh, tugas ini saya persembahkan khusus untuk
Pak Seta, Dosen mata kuliah Psikologi Industri (Pake Pak yah? Soalnya gak
seumuran hehhe :) ). Punteun Pa, sebelum baca summary saya mudah-mudahan ada kaitannya yah dengan materi kemarin hehhe, landasan saya cuma mau sharing saja pak tentang struktur management di tempat saya bekerja waktu itu.
Setelah salam saya juga jadi bingung mau ngomong apa?
To the point deh Pak, membahas dan melanjutkan materi kuliah
pertemuan terakhir saya akan memberikan kesimpulan tentang struktur organisasi dan permasalahan yang berhubungan
dengan materi kuliah dipertemuan kemarin
di tempat saya bekerja dulu :)
Perusahaan terakhir saya bekerja terletak di Kota Bogor,
perusahaan yang mempunyai basic dengan
kategori cukup baik, membuka peluang emas untuk meniti karier (terlebih untuk
pemula seperti saya hihi). Sebut saja namanya PT Mawar. Saya bekerja sebagai
Admin Support, saya pertama kali bekerja di tempat ini sekitar tujuh bulan yang
lalu. Hari pertama masuk kerja saya dikenalkan dengan seluruh karyawan beserta job desc mereka
masing-masing. Satu persatu karyawan di perusahaaan tersebut saya kenali.
Selanjutnya, hari-hari di kantorpun saya jalani dengan proses pembelajaran
.
Empat bulan setelah saya bekerja, satu persatu masalah di
perusahaan tersebut bermunculan, mulai dari masalah penghargaan terhadap
karyawan, rasa ingin dihargai, pilih kasih antara divisi perusahaan, absensi
karyawan, gaya bicara atasan dan bawahan,
asset perusahaan, who I am and who U are? (Kebanyakan kalo saya sebutin
semua :p ). Saya dan rekan-rekan saya yang lain, mulai memendam rasa kecewa,
kesal, dongkol, dan berbagai rasa tidak nyaman satu persatu. Tetapi disisi
lain, kami sama-sama menanamkan jiwa sabar, jiwa legowo, jiwa nerimo, pokoknya
pasrahlah (maklumlah, kita-kita kan bawahan..)
Empat bulan setelah saya bekerja di PT Mawar, syukur Alhamdulillah saya naik jabatan, (sebagai anak umur 19 tahun yang masih polos
dan berusaha ga negatif thinking *waktu itu.Red) naik jabatan tentu gaji naik
donk. Lagi-lagi saya bersyukur (Cukup deh, buat bayaran kuliah :) ). Di sisi
lain, teman-teman saya merasa miris, satu persatu dari mereka bertanya kepada
saya "Kamu yakin? Kamu sanggup?" Saya mendelik, rasa penasaran dan ragu berbaur dibenak saya. Oh iya,
saya lupa kasih tau, saya naik jabatan sebagai GA-General Affair. Teman-teman
saya geleng-geleng kepala, mereka kembali bertanya "Are u sure,
sista?" Saya mencoba meyakinkan hati, menegarkan diri, Bismillah sajalah,
kalau saya gak mencoba saya gak tau bagaimana rintangannya.
Hari pertama jadi GA, Bismillah.
Hari kedua, Syukur Alhamdulillah.
Hari ketiga, gimana yah?
Hari keempat, ada masalah apa sih, Bu?
Minggu kesatu, saya masih bisa kok, lah cuma jadi GA, ngurus
all about kantor, bantu HR, Legalitas perusahaan, registrasi rekanan.
Minggu kedua, revisi job desc cuy, nambah jadi PA-Personal
Assistant Presdir (saat itu saya masih sangat Pe-De, over malah, asik juga
umur 19 jadi PA ).
Minggu ketiga, nambah job desc lagi, urusin all about
keluarga presdir, eksport, import
barang. (Waduh, saya cuma geleng-geleng kepala, lah kan ada divisi yang
nanganinnya, kok saya lagi?? mulai acak-acakan nih job desc saya, gaji naik
dooooong bu?) Usut punya usut karyawan yang menangani masalah eksport-import
ini adalah kakak dari Nyonya Manager Finance di PT Mawar, alhasil ga taat
peraturan dan se-enak dewek, datang
ke kantor paling siang, pulang kantor paling siang, gaji paling bikin kenyang
(Emh, pantes ajah kerjaannya dikasih ke saya, secara dia pikir saya anak
bawang, gak akan ngelawan dan manut-manut ajah, anda salah besar kalau gitu!).
Minggu keempat, beliin voucher listrik buat rumah Ibu
Manager Finance dan Bapak Presiden Direktur (sempet sebel sama PLN kenapa sih
listrik ajah pake voucher? Nambah Job desc kan jadinya!). Belum saya kasih
keterangan kalau Ibu Manager dan Bapak Presdir adalah sepasang suami istri,
sifatnya 11-12 dempetnya.
Bulan kedua timbul peraturan baru tentang perizinan
eksport dan import dari sebuah instansi pemerintahan (Gak boleh disebut yah
Pak J).
Sang kakak dari Ibu Manager itu mengkambing hitamkan saya atau menjadikan saya tameng untuk menutupi kesalahannya.
Sebut saja bapak itu berrnama Yeti (Itu panggilan sayang saya buat do’I kalau
dikantor hehe, abis gendut sih). Dia bilang sama Ibu Manager dan Bapak Presdir
kalau saya yang seharusnya memperbarui perizinan itu, dia juga bilang saya
sudah diinformasikan sejak 2 minggu yang lalu untuk memperbarui perizinan
tersebut, tapi saya tidak melakukannya. Lah? Saya merasa tidak terima informasi
apapun, dengan gagah berani saya hadapi orang tua yang menyebalkan yang biasa
saya panggil Yeti itu. Saya asli mencak-mencak
, saya gak terima dia semudah itu melimpahkan kesalahan kepada saya. Lagipula,
itukan job desc dia. Selesai masalah lempar-melempar, tunjuk-menunjuk, ada
beberapa permasalahan yang kembali timbul. Saya berpikir, oh kayak gini yah
dunia kerja yang katanya kejam, sikut-sikutan. Yang lebih membuat saya bingung
kenapa Ibu Manager itu malah membela kakaknya yang jelas-jelas salah? Saya
kembali sadar, dia kan adiknya. Mulai nampaklah tidak profesionalnya atasan
saya.
Dengan rentetan aktivitas yang melulu itu-itu ajah, agak
bosen sih. Pertama kali saya sakit hati banggeeeett. Waktu sang Nyonya Manager
yang bilang dia paling cantik satu gedung (itu kata-kata dia omongin sendiri
waktu kita ada meeting, over Pe-Denya Nice lah :p) manggil saya ke ruangannya,
dengan alasan ga jelas dan ga masuk akal, dia marah karena dia nanyain struk
pembayaran indovis**n punya dia (Punya rumahnya booo) yang sudah DIA BAYAR
minggu lalu, kata dia saya yang nyimpen, harusnya saya yang bayar dan saya yang
kasih ke dia, bukan dia. (Hello, kenapa ga sekalian aja saya yang bayar telepon,
PDAM, pembantu, supir, kasih jajan anaknya, hal yang lebih menyebalkan ternyata struknya ada didalam tas dia). Dengan
sadisnya dia bilang saya ga da kerjanya, saya ga kerja apa-apa, kerja saya ga
bener, indah banget ucapannya itu. Inilah detik detik saya mulai tidak punya
rasa respect sama beliau dan
perusahaanya, masalah demi masalah yang ga bisa saya ungkapin satu-satu,
ketidak sesuaian job desc dan pekerjaan yang saya lakukan. Saya mulai membenci
dan merasa gerah dengan nyonya tajir tapi tidak berpendidikan itu, saya mulai
merasa benci dengan sifatnya yang suka menghina dan merendahkan lulusan SMK,
saya tidak suka dia merasa lebih kompeten (padahal dia lulusan D1), saya tidak
suka tidak dihargai, saya lebih suka kita bekerja sama, toh kita sama-sama
membutuhkan.
Jika dihubungkan dengan materi yang kemarin dibahas command dan control dalam PT Mawar sangat berperan besan. Setiap karyawannya cenderung didikte. Dalam penilaian saya struktur organisasi MBO hanya dijadikan sebagai kelengkapan perusahaan, leader tiap divisi kurang dihargai dan berpengaruh, kendali perusahaan, pengambil keputusan dari OB (Office Boy) sampai dengan Manager terletak pada Manager Finance padahal dalam susunan struktur dia hanya membawahi Finance dan Accounting.
Selain saya, ada beberapa hal lain yang menimpa teman-teman saya dikantor
tersebut yang sesungguhnya semakin mempertontonkan kepribadiaan beliau mengenai
pantas atau tidaknya untuk disebut seorang pimpinan. Ini hanya sebuah pelajaran
yang saya jadikan pengalaman, bahwa untuk menjadi atasan itu lebih sulit
dibandingkan menjadi seorang bawahan, karena perangai serta tutur kata seorang
pimpinan akan menjadikan titik temu penilaian seorang bawahan terhadap
atasannya.
Cerita semacam ini mungkin juga dialami oleh
karyawan-karyawan diperusahaan lainnya. Mungkin yang lain bisa bertahan dalam
posisi saya tersebut. Tapi saya tidak. Saya tidak takut rejeki saya akan hilang
dengan saya tidak bekerja ditempat itu lagi, rejeki saya sudah Allah atur
dimanapun itu. Saya merasa sangat rendah
ketika pekerjaan saya tidak dihargai. Dengan memiliki KTP usia termuda
dikantor, saya hanya berusaha menegaskan pada hati saya, saya ini memang
bekerja sebagai bawahan, tapi saya tidak ingin menjadi pesuruh yang dianggap
sebagai orang bawah, saya ingin menjadi rekan, bukan anak bawang J. Mudah-mudahan saya
lekas mendirikan perusahaan sendiri, hehhe
Aamiin :)
Saya memetik suatu pengalaman sebagai karyawan, ketika kita
menunaikan kewajiban kita, jangan lupa juga menyeimbangkannya dengan hak yang
harus kita dapat. Saya merasa diri saya lebih bernilai ketika hal itu bisa saya
sejajarkan.
Sepenggal cerita tentang job desc di tempat saya bekerja
(*waktu itu).
Terima kasih sudah membacanya :)

begitulah...hukum pareto berlaku 80/20..., bahwa kebanyakan bahwa 80% merupakan hal yang umum terjadi di Industri Indonesia...alhamdulillah Mbak bermain yang di 20%, memiliki value dalam menjalankan pekerjaannya bukan sekedar mengikuti "Command" dan mau di "control" seenaknya.., namun berpijak pada orientasi bekerja..salah satunya kerja adalah Ibadah (katanya master etos Jansen Sinamo)...sukses dan Salam SOBAT !
BalasHapus